Detail blog Catatan Rakyat Untuk Komisi X; Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Keseniaan, Perfilman, Kebudayaan dan Perpustakaan

Catatan Rakyat Untuk Komisi X; Pendidikan, Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Keseniaan, Perfilman, Kebudayaan dan Perpustakaan

1. Kebijakan Pemerintah yang mengharuskan anggaran pembangunan untuk pendidikan minimal 20 %, rupanya di beberapa daerah banyak menimbulkan masalah. Mulai dari ketidak-siapan konsep hingga ke soal2 manajerial di lapangan. Menurut pandangan para sahabat, bagaimana sebaiknya kita memberi masukan kepada Pemerintah, agar dalam 5 tahun ke depan, kita tidak mengulangi lagi kesalahan masa lalu ?

Catatan Rakyat:

Memang pemerintah pusat atau daerah pernah punya konsep yang jelas? Kalau diatas ngawur, dibawah akan lebih ngawur lagi…ga ada petunjuknya ? Kuncinya sinkronisasì pusat dan daerah mungkin dan bermain bersih serta amanah. Kita bukan pesimis, tetapi sederhana saja, bukan sistemnya yang salah tapi ketika kebijakan itu diciptakan tanpa didasari niat dan pelaksanaan nya pun ‘asal-asal an ?

Anggaran Pendidikan kita… 20 % ? 100 % persen aja mungkin kurang ? Kalo kayak dijadikan proyek .. misal DAK Non Phisik… berapa keuntungan yang didapat Konsorsium? Pendidikan yang berbasis kearifan lokal yang seharusnya di kembangkan, 20% hanya ada dalam tataran fisik, tidak menampakan perubahan yang signifikan terhadap kualitas generasi bangsa ini dan lebih menciptakan generasi yang individualis dan egois.

Kesalahan masa lalu… ? Kalau memang iya salah berarti yang ada sekarang ini produk gagal ? Gimana bisa menghasilkan yg terbaik ? Mungkin yang perlu dipertanyakan sampai sejauh mana para pelajar kita dihargai kemampuannya..?

KEBOCORAN ANGARAN PENDIDIKAN
————————–——————
Anggaran Pendidikan 20%, secara nyata telah menjadi “bancakan” pengelola pendidikan di negeri ini. Saya melihat sendiri contoh : Harga Buku Panduan Pendidikan yang HPP Cetaknya Rp. 200.000 dijual di dinas dan sekolah seharga Rp. 2 jt lebih (sangat tidak efisien : mark-up dibagi hasil antara pengelola pendidikan dan sales buku).

Ujian Nasioanal yang DIMANIPULASI
————————–—————–
Kini, kita sudah bingung membedakan siswa yang CERDAS AKADEMIK dan yang TIDAK ? Karena pembocoran soal UN secara sistematis dan ditambah PROSES EVALUASI jawaban UN siswa yang dimanipulasikan (mark-up).
Contoh kasus : Si AMIR siswa cerdas, dia UN murni hanya mampu meraih nilai rata-rata UN 8,5, sedangkan di sekolah AMIR banyak siswa lain (pembocoran kunci jawaban dan mark up nilai saat evaluasi jawaban) meraih rata-rata nilai 9,2…malang betul nasib si AMIR…. 

SELEKSI MASUK SEKOLAH TIDAK FAIR dan penuh MANIPULASI
————————–————————–——–
Kita menyaksikan juga bahwa saat ini terdapat beberapa cara untuk diterima di sekolah-sekolah Negeri Favorit dengan cara-cara CURANG.
Jalur Akademik=> Jalur ini lumayan bagus karena masih fair dalam menerima siswa berdasarkan nilai UN yang diperoleh, tetapi bagaimana dengan MANIPULASI HASIL UN sebagaimana dijelaskan di atas?

Jalur Prestasi=> ini banyak dimanipulasi, siswa yang hanya karena cantik fisik, bisa dianggap berprestasi sebagai MODEL, bahkan yang TIDAK BERPRESTASI hanya bisa maaf “mengaji” ABATA dianggap berprestasi…sungguh rusak

Jalur SBI => SBI adalah standar GANDA dunia pendidikan kita, SBI rawan dimanipulasi dengan mempertimbangkan besarnya SUMBANGAN siswa KAYA RAYA…waduh…orang kaya memang nyaman ya..?
Jalur MISKIN=> padahal kenyataannya siswa Ekonomi Menengah dapat masuk dengan membuat surat keterangan miskin yang telah dimanipulasikan.

Maslah nya, selama ini ada 2 masalah bidang.pendidikan : 

1. Kemampuan daerah berbeda beda sehingga pemenuhan 20 % APBD untuk pendidikan tidak terpenuhi. 
2. Bagi daerah yang mampu sering kali dinas pendidikan prop/kab/kota kebingungan menghabiskan anggaran pendidikan yang 20 %, karena perencanaan pembangunan nya tidak membumi sesuai kebutuhan sesungguhnya, sehingga sering sekali penyeragaman bantuan kesemua sekolah, padahal belum tentu bantuan tsb jadi kebutuhan prioritas di sekolah ybs. 

SARAN : Pemerintah dan DPR serta pemda dan DPRD Prop/kab/kota harus bersama sama membuat perencanaan anggaran pendidikan yang bottom up, pemerintah/pemda harus melaksanakan sesuai perencanaan yang telah ditetapkan pada APBN/APBD dan DPR/DPRD mengawasi pelaksanaan nya, kemudian selanjutnya BPK lakukan pemeriksaan penggunaan anggaran tsb. dengan cara ini diharapkan pembangunan pendidikan sesuai amanat UUD dapat dilaksanakan dengan sebaik baiknya dan cita cita kemerdekaan untuk pencerdasan kehidupan bangsa dapat terwujud.semoga !!!!

Tentang anggaran pendidikan :
1. 20% APBN untuk pendidikan OK. Pos rincian harus dimantapkan.
2. 20% APBD untuk pendidikan : Ini rancu, sejauh APBD masih bergantung kepada APBN.
3. Sekolah gratis (utk area Wajib Belajar) : Ini juga rancu. Struktur pembiayaan dari yang mampu tetap diperlukan. Bagaimanapun sekolah dapat dianggap “komoditas”, dan subsidi terhadap komoditas tetap salah. Subsidi saja mereka yang tidak mampu.
Karna sekolah gratis tidak semua anak-anak orang tak mampu. Habis untuk masuk sekolah tsb orang-orang harus ngeluarin duit yang lumayan besar makin favorit sekolanhya makin besar duitnya. Jadi yang disubsidi adalah orang yang mampu ?

Di tingkat perguruan Tinggi ternyata sama saja, untuk masuk Fakultas Kedokteran melalui JALUR KHUSUS di salah satu PTN , sumbangan minimal harus Rp. 150 juta..terbayang oleh kita, mungkin di negeri ini sepuluh tahun mendatang akan LEBIH SEMRAWUT, lebih banyak kasus malpraktik dan kasus-kasus tercela lainnya.

KUALITAS dan KUALITAS ALUMNI SARJANA
————————–————————–
Negeri ini sebetulnya tidak membutuhkan JUTAAN LULUSAN SARJANA S1, atau JUTAAN SARJANA S2 DAN S3 tetapi KUALITASNYA SETARA dengan lulusan SMA dan SMK di Negara Maju.
Setelah lulus dari sekolahan, manusia Indonesia mentalnya menjadi manja, dan seolah diberi KACAMATA KUDA yang tujuannya hanya BEKERJA.
Seharusnya, KUALITAS lah yang diburuhkan dari lulusan sekolahan dan PT, lalu untuk apa banyak mencetak DOKTOR dan MAGISTER serta SARJANA karbitan di negeri ini???, Hmmmm…

“900 ribu sarjana nganggur…. penghargaan macam apa dan sekolah gratis hanya menguntungkan biro iklan dan media serta artis iklan…?”

2. Kebijakan pendidikan yang cenderung berorientasi pada peningkatan penalaran, namun kurang mempertimbangkan pentingnya budi pekerti, acapkali menimbulkan berbagai masalah. Menurut pandangan para sahabat, bagaimana sebaiknya paradigma pembangunan pendidikan yang sebaiknya kita kembangkan di masa mendatang ?

Catatan Rakyat:

Pendidikan di Indonesia sudah mengarah ke arah yang lebih baik. Tapi sayang, hal itu tidak di imbangi dengan pendidikan budi pekerti, sehingga moral anak bangsa semakin bobrok. Hal ini harus menjadi perhatian dari pemerintah. Pembangunan manusia Indonesia seutuhnya memang harus di dasari moralitas yang baik, sehingga masyarakat Indonesia memiliki kepandaian serta mempunyai budi dan pekerti yang luhur.

Pendidikan harus mencakup segala unsur pembelajaran……….khusus untuk bangsa kita mendidik mental dan penalaran harus berjalan seiring dan mendapat perhatian khusus terhadap perimbangannya agar kelak kita menjadi bangsa yang lebih baik dan terhormat……tidak lagi memiliki mental penjajah ketika berkuasa dan mental terjajah ketika menjadi masyarakat biasa. Contoh nya seperti pendidikan yang berbasis budaya dan kepribadian bangsa. Budi Utomo memberi contoh yang bagus untuk itu menurut beliau mentega makanannya orang bule dipakai menggoreng nasi yang pedas enak buat lidah orang Indonesia tidak bisa dimakan orang bule.

Kurang setuju dengan sekolah RSBI (Rintisan Sekolah Berstandar Internasional) ato SBI (Sekolah Berstandar Internasional) , karena gini lho rsbi ato sbi kan uang spp nya bayar mahal pula , dan uang pangkalnya mahal pula , gimana dengan orang yang tidak mampu padahal mereka ingin masuk sekolah ? Beasiswa ? Itu tidak menutupi semuanya ! Sekolah SBI atau SRBI kan menggunakan fasilitas negara gurunyapun dibayar negara, apakah bisa seorang anak bangsa yang cerdas masuk sekolah SBI sedang ortunya tidak mampu???? Tidak adil itu, jadi orang tidak mampu tetap saja miskin???

Sistim penddidikan nasional sudah terlalu kuno dan ketinggalan jaman dan ini salah satu hal terpenting mengapa terdapat pengangguran di kalangan orang yang berpendidikan mulai dari SLTP s/d S3.
1. Visi Pendidkan nasional tidak jelas alias utopis dan tidak menjawab kebutuhan bangsa.
2. UU Pendidikan pada prakteknya hanya untuk melegalisir ijazah dan tidak menjamin standar kualitas kemampuan menjawab tantangan untuk terlibat dalam memnuhi kebutuhan bangsa ( makro maupun mikro, stretegis maupun taktis)
Kenyataan di lapangan jutaan anak SD, ratusan ribu SLTP dan puluhan ribu SLTA putus sekolah sebelum tamat (sekolah gratis hanya menguntungkan biro iklan dan media serta artis iklan) dan ribuan pengangguran di kalangan sarjana.

Solusinya:
1. Cetak Biru Kebangsaan Indonesia jangka panjang
2. UU pendidikan yang disesuaikan demi pencapaian apa yang ada pada cetak biru pada waktu tertentu
3. UU Penddidikan harus juga memberi jaminan standar kualitas mental dan ketrampilan dalam memecahkan masalah yang ada di masyarakat ( mikro-makro, Taktis- strategis).
4. UU Pendidikan juga harus mengakomodir peningkatan IQ, EQ, SQ (disini lah kita jumpai pendidikan Budi Pekerti dan Etika dan Agama).
5. UU pendidikan harus menjamin bahwa seorang pendidik untuk pendidikan dasar harus mampu mendidik Budi Pekerti (lintas agama).
6. UU pendidikan harus menjamin pelaksanaan standar gaji dan pendapatan pengajar dan staf disamping menjamin standar minimum kompetensi pengajar dan staf.
7. UU Pendidikan menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warganegara selama masa wajib belajar dan memberikan beasiswa bagi pelajar/mahasiswa tidak mampu yang memenuhi standar minimum kualifikasi mental, intelektual emosional.

Maka dalam 9 tahun akan terasa nyata perbaikan akhlak nasional
Dalam 15 tahun akan terasa nyata perbaikan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, keamanan dan politik.
Dalam 25 tahun Kebangsaan Indonesia akan dicontoh oleh seluruh dunia karena memberikan solusi bagi segala masalah dalam kehidupan bermasyarakat. Namun semua harus diumulai dari political will karena kalau tidak maka musuh ‘kebangsaan Indonesia’ akan dengan mudah menjegal upaya apapun bagi kesejahtaeraan bangsa dan negara yang berkesinambungan bahkan abadi.

Kita seharus nya setuju banget dengan PENDIDIKAN BUDI PEKERTI, tetapi hendaknya pendidikan budi pekerti lebih diterapkan, bukan hanya diajarkan. GURU harus menjadi contoh, dipraktekkan dalam kehidupan di sekolah maupun hidup sehari-hari. JANGAN lah BUDI PEKERTI di UJIKAN, karena penilaiannya akan mengundang MANIPULASI karena sangat SUBJEKTIF ! PENILAIAN TERHADAP SISWA tetaplah harus berpatokan pada indikator-indikator OBJEKTIF agar tidak DIMANIPULASIKAN !

“Pembukaan UUD 45, negara wajib mencerdasakan bangsa, artinya jika ada masyarakat tak mampu membiayai, maka pemerintah wajib membiayainya., itu kalau pemerintahnya taat pada UUD 45..!”

3. Kita pernah dikejutkan oleh kampanye tentang “pendidikan gratis”. Pernyataan seperti ini terkesan tidak realistik. Lain cerita nya dengan istilah “pendidikan murah”. Menurut pandangan para sahabat, mungkinkan di dunia ini ada yang disebut dengan pendidikan gratis itu ?

Catatan Rakyat:

Bohong besar sama yang namanya pendidikan gratis !!! Kita lebih sepakat pendidikan murah, sebab ada dana operasional yang harus dibayar ketika kita menikmati apa yang dinamakan pendidikan ! Pendidikan gratis terlalu ekstrim, lebih tepat pendidikan murah dengan subsidi dari pemerintah. Tetapi dengan adanya UU BHP. Sukar didapat kan pendidikan murah. Hanya orang kaya saja yang bisa menikmati pendidikan hingga tinggi. Anak-anak tak mampu tapi berbakat harus diperhatikan oleh Pemerintah agar tidak ada brain drain. Pendidikan untuk anak miskin berbakat harus diperhatikan.

Bisa saja pendidikan gratis, kalau memang anggaran 20% untuk pendidikan sesuai tepat sasaran, misalkan anggaran untuk balai-balai diklat dijajaran pemerintahan seharusnya tidak termasuk dari anggaran 20% tsb ? Karena itu menyendok hampir 5% sendiri dari anggaran tersebut. Maka yang terjadi pendidikan untuk sekolah, menjadi kekurangan terus?? Seharusnya anggaran diklat-diklat itu dibebankan kepada departemen terkait. Jadi tidak mengganggu anggaran pendidikan 20% tsb. Dan penting diingat kalau pemerintah nya amanah bisa saja ! Anggaran negara ini cukup besar namum terlalu banyak tikus-tikus yang menggerogotinya. Sudah banyak negara-negara luar yang menggratiskan pendidikan bahkan sampai perguruan tinggi. 

Pendidikan adalah pembangunan jiwa yang diamanatkan oleh pendiri negara (lagu Indonesia Raya), karena itu sudah seharusnya gratis! Kalau negara lain yang kapitalis pun bisa kenapa kita tidak ? Persoalannya mau apa tidak penyelenggara negara ini menjalankan amanat pendiri negara ini dengan tulus memberikan hak-hak asasi warga negara ini ? Dan siapa bilang tidak realistis bro, pendidikan itu emang harus gratis buat bangsa ygan mau maju, karena Pendidikan modal satu satunya yang ngak bisa di ambil bila kita kalah bersaing dari negara negara lain, coba kalau harus bayar gimana mau jadi dokter yang ngak pasang tarif tinggi modalnya nya aja udah besar, tapi kalau gratis maka kesehatan akan murah. Itu salah satu efek efek yg di harapkan dari sekolah gratis. Dengan sekolah gratis maka Insinyur insinyur kita ngak bakalan makan aspal ngak makan pasir atau batu yang buat jalan atau bangunan yang di buat oleh pajak rakyat ! Pendidkan tetap Harus GRATIS sampe Kuliah ! Pendidkan GRATIS bisa bikin HUKUM di Republik ini sama buat semua ! Pendidkan GRATIS bisa bikin KESEHATAN murah !

Kalau ada yang bilang kurang realitis tentang pendidikan gratis maka orang itu mau maju sendiri mau pintar sendiri dan takut bersaing dengan yang lain mental penjajah, biar mereka bisa membodohi terus orang orang yang miskin dan susah mendapat akses pendidikan ! Jadi sekolah harus gratis kalau Indonesia mau maju Bro ! Kalo kita bandingkan sekolah-sekolah “Negeri” dengan swasta mutu pendidikannya jauh beda. Coba bagi yang pindah beberapa kota dan daerah kenyataan nya memang seperti itu aapalaga untuk wilayah Sumbagsel sekolah-sekolah xaverius belum bisa disamai oleh sekolah negeri aapalagi mau melampui wong nyamain aja belum mampu..?

Pendidikan Gratis..??
Buku paket beli terus dan tiap sekolah beda-beda penerbitnya beda dengan zaman dulu semua sekolah itu sama buku paketnya dan kurikulumnya mengacu pada 1 kurikulum yang telah ditetapkan Diknas…

Sekadar saran :
1. SPP gak apa-apa bayar yang penting buku yang gratis karen lebih mahal buku daripada SPP
2. Dana BOS lebih baik ditinjau ulang karena sekarang jadi lahan sekolah untuk korupsi
3. Agar tenaga pendidiknya harus memiliki standar mutu yang baik dibidangnya masing-masing, ibaratnya guru harus memiliki “SIM” dan tiap tahun harus di evaluasi apabila ternyata guru tsb menurun standar mutunya di cabut aja izin mengajarnya dan lebih baik lagi jika dalam penilaian tsb murid juga ikut dilibatkan menilai. Jadi akan terjadi keseimbangan antara yang mengajar dan yang diajar
jangan seperti sekarang guru semaunya saja murid mau ngerti atau tidak yg penting gajinya dah
“gede” dan ditambah lagi tunjangan yang hebat euy..?

“Hidup ini ndak ada yang gratis friend,…apalagi yang namanya pendidikan gratis,…boong aje…Pendidikan Gratis itu hanya kata katanya saja tapi prakteknya tidak berjalan semulus programnya, itu kan hanya untuk menarik simpati rakyat saja supaya memilih calon yang berjanji.?!”

4. Selama ini kita mengenal ada yang disebut dengan pendidikan di lingkungan keluarga, pendidikan di lingkungan sekolah dan pendidikan di lingkungan masyarakat. Dengan bercermin kepada fenomena yang ada saat ini, menurut pandangan para sahabat, bagaimana sebaiknya ketiga bentuk pendidikan diatas kita kembangkan ?

Catatan Rakyat:

Paling penting saat ini adalah pendidikan jati diri bangsa ..?? Jangan sampai diambil alih luar dari. Juga penting adalah pendidikan keluarga, itu adalah dasar yang fundamental, pondasi yang harus dibangun kokoh. Selain itu tidak kalah penting nya adalah, PMB..Pendidikan Moral Beragama. Setuju banget…
Pendidikan yang berawal dari keluarga adalah “basic” dari terbentuknya moral pribadi yang juga berpengaruh terhadap moral bangsa…!! Tujuan pendidikan arahkan kesini: 1.Pribadi Takwa, 2. Masyarakat Takwa, 3. Negara Takwa. Mungkin kah? 

Antara pendidikan di lingkungan keluarga,sekolah dan masyarakat harus saling bersinergi satu sama lainnya. Karena ketika hal ini merupakan komponen yang paling penting dalam mengembangkan pendidikan yang seutuhnya. Ketika kita tidak mendapat pendikan moral disekolah kita bisa mempeorolehnya dilingkungan keluarga dan masyarakat. Begitu juga sebaliknya. Jadi ketiga komponen ini harus saling bersinergi dengan baik.

Pendidikan itu memang penting baik itu formal atau non formal, kedua-duanya harus saling memberikan kontribusi yang baik dan harus diimbangi dengan akhlak dan moral yang baik, baik itu disekolah, masyarakat, keluaraga sama-sama saling berperan penting dalam memperoleh pendidikan. Jadi himbauan saya kepada pemerintah untuk tidak menjadikan pendidikan kita sebagai alat komersialisasi demi mencerdaskan bunga bangsa……!!!

Lingkungan yang maha berat… narkoba ada dimana-dimana, gambar-gambar saru menyerbu disetiap penjuru… kalo kita diam berarti mengiyakan… rusak moral segalanya… apa arti pendidikan sekolah.? Tapi yang didik terjangkiti penyakit moral..? Wah terserah para pemimpin mau dikemanakan bangsa ini ?

5. Sudah beberapa tahun ini, terekam kesan bahwa biaya kuliah di perguruan tinggi, sangatlah sulit untuk dijangkau oleh masyarakat kebanyakan. Kuliah identik dengan biaya mahal. Lebih para lagi, ternyata hanya mereka memiliki uang sajalah yang memiliki peluang untuk menyekolahkan putera/i nya. Bagaimana pandangan para sahabat terhadap persoalan yang demikian ?

Catatan Rakyat:

Aduh pak , jangankan buat kuliah , buat SMA negeri yang masuk level unggulan aja biayanya udah gila-gilaan, antara lain uang gedung Rp 11,8 juta , kudu lunas dalam waktu 6 bulan sedang SPP Rp 450 ribu sebulan, belum lagi nanti biaya beli buku , seragam , uang kegiatan . Yang ada pusing dot com neh ? Gak usah perguruan tinggi Bung.! Bukan hanya SMA, SD aja juga mahal. 20 Tahun lagi baru hasilnya. MUTU anak yang sekolah murah ( subsidi) sama anak yang sekolah mahal, dengan kata lain,anak miskin gak akan dapat bersaing dengan anak-anak yang “kaya”, dan akhirnya..??…akhirnya..? akhirnya…?? 

Dengan adany UU BHP.sunguh sangat merugikan bagi mahasiwa/wi yang pas-pas an.seperti saya ini, mungkin bagi orang yang mampu tak masalh tapi bagi saya sangat berat..! Mari kita musnahkan UU BHP Merdeka…! 

Itulah INDONESIA…sekolah/kuliah, hanya untuk yang berduit, yang tak berduit jadi penonton ? Yang kaya makin pintar/kaya, yang miskin makin susah, akan tetapi saudaraku yang susah teruslah berusaha dan berDO’A…TUHAN MAHA ADIL…kita semua sama di mata TUHAN..!

Biaya pendidikan di Indonesia memang mahal..dari mulai taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi…gimana bangsa ini mau maju..kalau banyak anak-anak putus sekolah….kenapa engga pemerintahan yang sekarang berjuang buat pendidikan gratis ? SD dan SMP sudah gratis..ayo dong dilanjutkan ke SMU bahkan perguruan tinggi..!

Bukan ke Barat-Baratan dan bukan juga ke Timur Tengah-Timur Tengahan. Sistem yang harus diganti ! Sekarang ini di negara tercinta ini, lebih menghargai prestise daripada prestasi, khususnya dalam mencari kerja (sebagian besar). Tidak perlu cari siapa yang salah, tapi marilah kita rubah “back mind” dengan lebih menghargai prestasi … Baca Selengkap nya seseorang daripada prestasinya. Lihat perjalanannya Bill Gates (bagi generasi muda) dan Kolonel Sanders (bagi manula) …. mungkinkah ada di negara tercinta ini? 
Sistem orientasi negara ini ke rakyat apa ke kaum elite? Kita yakin banyak masyarakat kita yang pingin ber “amal”, tapi terkendala sistem yang ada.

PT inilah yang disebut pendidkan mahal….khusus orang yang punya uang…kalau untuk orang kebanyakan cukup sampai SD saja (kan pendidikan gratis). Yang penting bisa baca tulis alias ngga buta huruf…syukur-syukur sampai SMP atau SMA (itu juga kalau tidak dikawinkan oleh orangtuanya atau ikut kerja jadi kuli bangunan). Jadi adalah sebuah MIMPI KALI YEEE untuk orang orang miskin berpendidikan sampai bangku kuliah. Kita simak Pasal 31
(1) Tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran.
(2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.
Adalah HAK tiap-tiap warga negara untuk mendapat pengajaran/pendidikan…jadi mana HAK RAKYAT…??Jangan kewajiban terus yang di kejar, pajak, retribusi, bayar ini , itu.!

Seperti negara tanpa pemerintahan…mau maju tapi tanpa sebuah perencanaan ? Padahal satu-satunya cara bagi negara itu memperbaiki diri adalah jika rakyatnya memperbaiki diri. Sekolah adalah tempat memperbaiki diri, dan seharusnya buat pendidikan itu murah bagi semua orang. Sebenarnya pemerintah sudah tahu, cuma persoalannya diantara mereka lebih banyak berhitung apakah menguntungkan dirinya ? Ijazah buat orang Indonesia adalah modal untuk mencari pekerjaan kalau sekolah/kuliah biaya tinggi sedangkan hasil dari bekerja tidak memadai supaya kembali modal ya korupsi dong ?

“Kuliah untuk orang kaya, yang miskin jangan pernah kuliah, yang miskin jangan pernah sakit, tugas para dewan terhormat dan penguasa untuk perjuangkan nasib rakyat kecil..!”

6. Walau pun bidang kepemudaan telah ditangani oleh lembaga setingkat Kementrian, namun dalam operasionalisasi di lapangan, tetap saja berbenturan dengan berbagai kepentingan. Menurut pandangan para sahabat, langkah-langkah seperti apa yang harus ditempuh agar di lapangan tercipta harmonisasi kebijakan dengan gerakan nyata di lapangan ?

Catatan Rakyat:

Definisi PEMUDA seperti apa sih…??? Lah wong yang jadi menteri nya saja sudah tidak muda, dan bukan pemuda, karena asumsi pemuda= sampai umur 18 tahun….lah. Kalau ada masalah benturan kepentingan ya harus dikembalikan kepada kepentingan Pemuda, sehingga pada saatnya siap meneruskan generasi tua. Kebijakan yang ada dibuat untuk kepentingan golongan tertentu saja. Bagaimana bisa itu? Kenapa tidak coba cara seperti di fb suara rakyat ini, buka wadah untuk nampung aspirasi semua golongan ?. Pemuda bukan milik kalangan tertentu,bukan? Aspirasi akar rumput juga termasuk didalam situ. Harusnya yang jadi Menpora benar-benar muda, jadi bisa mengerti aspirasi yang muda-muda, bukan aspirasi yang tua-tua. 

“Duduk satu meja antara pengambil kebijakan dengan pelaksana di lapangan serta disaksikan oleh perwakilan kaum muda se Nusantara..!”

7. Di jaman nya, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), sempat menjadi “kawan candradimuka” nya para pemuda. Dari wadah inilah lahir tokoh2 muda yang memimpin bangsa. Menurut pandangan para sahabat, apakah KNPI masih dapat dijadikan sebagai wadah untuk membangun watak dan jati diri generasi muda kita ?

Catatan Rakyat:

Di lihat dari proses pemilihan yang bergelimang uang, kita ragu KNPI menjadi kawah candra dimukanya pemuda, karena hanya punya faktor uang dan deket kekuasaan saja yang bisa eksis. Apalagi kita tau faktor “follower” tokoh partai dsb selalu menyertai dinamika KNPI. KNPI harus melanjutkan apa yang menjadikannya format awal terbentuk nya dari peleburan wadah kepemudaan. ” KOMITE ” = ada hal yang belum terselesaikan, mari kita buat pencerahannya. Tidak dapat dipakai lagi sekarang, karena dulu untuk kepentingan penguasa, sebaiknya pemerintah memberlakukan Wajib Militer ( wajib militer bukan sebagai tentara, tetapi pendidikan untuk membentuk pemuda yang bermoral, mental, watak, sifat terpuji.dan mengerti akan Indonesia sehingga mempunyai sence of belonging dan sadar akan dasar Negara Indonesia adalah Pancasila dan UUD 45 sebagai garis haluan bernegara). Zaman sudah berubah. KNPI perlu merevitalisasi diri, sehingga keberadaan nya benar-benar menjadi bagian dari kebutuhan kaum muda.

“Wadah untuk jadi mentri ngkali yee..dan hanya ada satu kata “BUBARKAN SAJA”…!!! hidup pemuda..hidup rakyat..!!! sebab mereka hanya merusak citra yang mengatasnamakan PEMUDA…?”

8. Ada pandangan yang mengemuka bahwa kiprah generasi muda di masa kini, relatif pragmatis dan mulai jauh dari nilai2 kejuangan yang idealis. Agar hal yang demikian tidak menjadi semakin parah, menurut pandangan para sahabat, langkah2 apa yang sebaiknya dilakukan ?

Catatan Rakyat:

Sosialisasi & pembelajaran akan pentingnya ilmu & wawasan agar lebih kreatif, mandiri, tak mudah dibohongi serta di-bodoh bodohi oleh siapapun. Dan jauhkan yang namanya idealis dengan realistis, sudah jadi rusak apalagi wawasan berpikirnya (orangnya) ? Sehingga harus dilakukan perubahan pola pikir, lewat pendekatan secara psikologis.

1. perbaiki sistem pendidikan, jadikan moral ukuran utama kelulusan.
2. perbaiki sistem ekonomi, sehingga mencari makan gampang, sehingga orang tidak mudah berfikir macam-macam (korupsi, merampok, maling, dsb)
3. perkuat tatanan sosial dan kontol masyarakat.

Pompakan kembali semangat juang dan hidupkan rasa cinta tanaih air secara terus menerus melalui berbagai cara agar rasa itu muncul dengan kuat kembali, sadarkan akan pentingnya persatuan dan kesatuan serta keutuhan bangsa ini, dimanapun kita berada, dari daerah manapun asal kita, tetap satu negara kita, INDONESIA. Kita harus bangga sebagai bangsa yang besar INDONESIA….! Juga harus Building the new character,seperti pesan Bung Karno.”Pembangunan Moral, Mental, Watak, Sifat terpuji adanya” 

Siapa bilang? Maklumlah wacana yang dibangun para konseptor minded tanpa pernah tau dan turun lapangan, salut memang hebat mereka secara konsep menuangkan dalam tulisan tapi mereka hanya menyimpulkan dan mendapatkan itu semua dari hasil” analisa” prematur. Maaf kebetulan saya orang yang bekerja benar-benar dilapangan, tahu gimana susahnya memobilisasi,advokasi hingga memberdayakan orang, panas hujan benar-benar terasa dikulit ini bukan melihat dari kamar hotel, ngobrol dengan 1-2 orang kemudian menuangkan dalam tulisan dan menjadi sebuah kesimpulan, masih sangat naif dan prematur….

Buat Wajib Militer, kirim jadi tentara perdamaian di Afgfanistan, Irak, Libanon, Kongo, jaga perbatasan IndonesIA Malaysia, jadikan relawan penanggulangan bencanan alam. Banyak cara untuk merubah pemuda konsumtif- pragmatis menjadi produktif- nasionalis…! Kelemahanan nya hingga kini kita tidak pernah memiliki pola pembangunan kepemudaaan yang berkualitas !

Mungkin disetiap generasi ada perbedaan cara dalam penyampaian sifat nasionalis masing-masing ? Tapi jangan buru-buru dituduh tidak nasionalis ! Beda jaman beda cara ? Tapi berhubung negara ini krisis moneter melulu, ya sementara hanya moneter yangg prioritas dibenak kaum muda.

“Cuma satu….Bikin Musuh Bersama ( Common Enemy)..!”

9. Mensana in conporisano : dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat. Itulah motto yang senantiasa terngiang di telinga manakala kita berbincang soal keolah-ragaan. Menurut pandangan para sahabat, apakah sekarang kita sudah memiliki sebuah grand desain dari pengembangan keolah-ragaan secara nasional ?

Catatan Rakyat:

Jelas belum punya. Ayo dong buat grand desain pembinaan olahraga dan jadikan Indonesia Bangga dalam keolah-ragaan. Belum dan masih jauh dari maksimal..Bandminton is OK, tapi yang lainnya..? Khusus tuk sepak bola, kalo pemerintah anggarkan tiap-tiap tanah lapang fasilitas umum tuk jadi lapangan futsal, niscaya dengan sendirinya akan lahir bakat-bakat muda yang kompetitif, layaknya badminton, kan banyak banget tuh lapangannya.
Seperti di Brasil: Pele dan banyak lagi pemain kelas dunia yang terlahir dari futsal.

10. Memasyarakatkan olah raga dan mengolah-ragakan masyarakat, memang pernah menggema dan berlangsung semarak dalam kehidupan kita sehari-hari. Jargon “tiada hari tanpa olah raga” pun, melengkapi semangat yang dibangun ketika itu. Menurut para sahabat apakah sekarang suasana seperti itu masih terjadi atau hanya tinggal sebuah nostalgia saja. ?

Catatan Rakyat:

Tapi lebih mudah bagi yang ada perlengkapan atau gym dekat tempat tinggalnya. Di Indonesia kan yang namanya central park ato public space adalah barang super langka. Padahal kalau ada mampu mengubah kebiasaan masyarakat kita untuk berolahraga di pagi hari. Setiap ada lahan kosong langsung dibuat gedung atau mall. Dah mulai ga ada, yang da mungkin fitness bagi yang ber-uang, aerobik tapi olah raga buat orang khalayak ( umum ) dah ga da, orang tempat olah raganya juga dah ga ada yang gratis, semua serba duit. Ya ga ?

Mau olah raga dimana ?? Wong lapngannya juga dach habis di pakai bangun mall, apartement, dan gedung perkantoran ? Seiring berjalannya waktu, prestasi kita makin memudar, olah raga unggulan pun prestasinya timbul tenggelam. Perlu perubahan sistem yang merubah motivasi rakyat untuk menjadikan olah raga sebagai /sandaran pegangan hidup mereka.

“Sudah tidak tuh, sekarang cuma tinggal nostalgia…?”

11. Indonesia dikenal sebagai negara yang sangat kaya akan potensi alam yang dapat dijual untuk kepentingan pariwisata. Sayang nya, wisatawan manca negara, relatif lebih mengenal Bali ketimbang daerah2 wisata lainnya. Artinya, jika mereka ingin berwisata ke Indonesia, maka yang ada di benak nya adalah Bali. Menurut pandangan para sahabat, apa yang harus dilakukan agar hal-hal yang dikemukakan diatas dapat kita rubah-arahkan ?

Catatan Rakyat:

Perkenalkan dengan gencar potensi pariwisata daerah-daerah lain melalui berbagai media, setiap putra/i daerah mencoba memperkenalkan potensi yang ada didaerahnya masing-masing dan menjadi corong daerahnya untuk memperkenalkannya kepada para wisatawan dan calon wisatawan yang bisa dijaring melalui media onlime dan media-media lainnya. Seharusnya pemerintah lebih mendorong industri pariwisata…. coba lihat nasib-nasib objek wisata di Indonesia yang selain di Bali ? Mengenaskan padahal menyimpan potensi yang dasyat.

Sebagai orang media, kita hanya dapat mengatakan, Promosi dengan media Audio Visual lebih efektif dan efisien serta mencakup khalayak luas. Mana peranan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata ?? Jangan menutup mata dengan perkembangan media AV. Manfaatkan !!! Jalan rusak dan susah akomodasi dapat mereka lalui dengan senang hati, asal bahasa Ingris bisa dikuasai minimal 50 persen, oleh saudara-saudara kita yang tinggal didaerah, begitu juga info perjalanan up date.

Bali memang indah pulaunya, kultur masyarakat dan infrastrukturnya juga mendukung, lokasi lain yang indah juga harus didukung. Yang jelas nggak mungkin nama negara kita Indonesia di rubah menjadi Bali biar bisa di kenal dunia ! Indonesia banyak tempat wisata yg pemandangannya Indah-indah sayang masih belum banyak wisatawan baik Luar dan Dalam negeri yang melirik, coba di promosikan, dikelola dengan baik, ga perlu orang Idonesia berduyun-berduyun ke negara tetangga. Negeri kita ga kalah indah ! Setuju khan ! Setiap daerah-daerah dii Indonesia memiliki banyak potensi pariwisata yang besar dan harus di kembangkan dan di publikasikan ke masyarakat umum , baik lokal maupun internasioanal , harus di mulai dari diri kita sendiri apakah sudah familiar dengan pariwisata kita sendiri atw lebih familiar dengan pariwisata luar..?? Sebagai warga negara Indonesia yang baik harus menjaga dan melestarikan budaya kita sendiri..!!!! GO INDONESIA TOURISM…!! 

Contoh dong kota solo yang saat ini sedang berusaha menjadi kota wisata dengan memperbaiki dan menambah fasilitas dan infrastruktur ditengah kota seperti kereta wisata yang terletak ditengah kota dan satu-satu nya di Indonesia !

Bali ditunjang route penerbangan Internasional, daerah lain bisa hanya kendala utama di angkutan , jika mereka terlalu banyak jalan darat & laut biasanya banyak kendala waktu, untuk meningkatkan penyebaran Touris, dibuat Paket Liburan yang selalu menyertakan Bali dan Plus wilayah lainnya, seperti Bali+Solo YK, Bali +Bunaken, Bali+Toba dan Bali+Torja…… pastiseru..! Dengan pembenahan semua obyek pariwisata secara berimbang, tidak lagi dengan sudut pandang unggulan, tetapi mengkondisikan semuanya unggulan !

“Perlu di tingkatkan promosi pariwisata setiap daerah, agar lebih terkenal dan di kenal oleh masyarakat luas”

12. Ditengarai, salah satu faktor penyebab tidak menggeliatnya pariwisata di negara kita dikarenakan oleh minim nya anggaran untuk melakukan sosialisasi dan kampanye parawisata Indonesia ke manca negara. Menurut pandangan para sahabat, terobosan seperti apa yang sebaiknya dilakukan oleh Pemerintah untuk memberi solusi atas masalah yang tengah dihadapi ?

Catatan Rakyat:

Menempatkan mereka yang kurang jiwa seni, dibidang pariwisata maka kepariwisataan akan lenggang kangkung. Bukan cuma urusan anggaran, pariwisata mesti didukung kesiapan perangkat di daerah, misalnya faktor keamanan & kenyamanan wisata. Mencontoh di thailand yang menyiapkan begitu besar aparat keamanan wisata yang tidak kalah tegasnya dengan aparat keamanan pada umumnya. Selain itu, jangankan anggaran untuk promo, akses jalan ke tempat wisatanya aja masih kurang ? Indonesia kok jadi penakut gitu ya, malaysia berani kok nampilkan budaya orang lain buat menarik peminat wisata asing ke malaysia, kok indonesia budaya apa saja ada, dari buadya seni sampai budaya suku ada semua kurang apa lagi ? Apa pemerintah ga niat memajukan negara ini jadi buat apa dia di pilih buat keluarga dan kelompokinya doang ?

Harus dicegah pengaruh paham yang hendak mengkriminalisasi ekspresi kesenian misal, cara berpakaian dan gerak tari atau olah seni yang dituduh mencemari agama. Juga perlu dicermati juga keberadaan teroris-teroris macam Noordin MT. Barngkali itu untuk mnutup akses Wisman ke negara kita ? Yang kita heran ngebom-nya kok nggak dimalaysia, jadi pendapatan pariwisata mereka melonjak tinggi..?

Karena pengusahanya dicuekin sama Kadin dan ASITA tidak transparant dalam penggunaan dana fix deposit dari pengusaha Biro Perjalanan Wisata. Wahh.. ini nih potensi negara kita yang sering dilupakan oleh Negara kita ? Negara kita hanya terfokus di Bali untuk pemasaran pariwisata ke mancanegara.. padahal negara kita sebagai negara tropis sangat kaya akan tempat-tempat wisata yang belum dikelola dengan baik. Begitu juga dengan kebudayaan negara kita yang begitu beraneka ragam. Pemerintah sekarang harus lebih giat mensosialisasikan pariwisata dan kebudayaan negara kita dan harus didukung penuh oleh semua pihak. Kita sangat concern dengan pariwisata dinegara ini, saya harap Suara Rakyat bisa dijadikan ajang untuk Promosi Pariwisata Negeri ini… 
Go Pariwisata Indonesia…!

Anggaran untuk itu memang penting, tapi yang jauh lebih penting, lagi-lagi adalah awareness. Kesadaran masyarakat untuk tetap ngejaga lingkungan pariwisata ybs. Dan lagi-lagi, peran semua pihak sangat diperlukan, gak cuman masalah melulu dana kok ? Betul, dan dari sedikit anggaran yang ada untuk promosi, tampaknya masih kurang efektif/efisien. Bisa terlihat mulai dari perancangan materi iklan dan pemilihan media. Sederhananya, andaikan budget kita untuk beriklan tidak memungkinkan frekwensi penayangan atau pencetakan yang on memadai, maka kualitas daya tarik materinya sendiri harus bisa mengkompensasi minimnya penayangan/pencetakan/penyebaran. Ini baru salah satu faktor dalam minimnya promosi kampanye pariwisata Indonesia ke dunia. Apakah tidak ada angggran yang di menej dengan baik, sehingga jumlahnya minim, jangan kebanyakan di korupsi…???!! Ingat pariwisata adalah potensi besar bagi indonesia kalau di menej dengan baik !

Indonesia tanah yang kaya dan indah, dimana jauh berpuluh-puluh tahun sebelumnya sudah dikenal dunia, tampaknya bukan masalah sekedar sosialisasi dan kampanye, terpenting bagaimana dengan keamanan dan kenyamanan? Seorang tamu asing dari Italia pernah mengeluh, bilamana kenyamanan berkunjung ke Indonesia sudah tidak lagi seperti dahulu.

“Shiiiip…Malaysia aja rela ngeluarin duit banyak, kasian banget indonesia ? Abis duitnya di korupsi semua siy , maka nya Promosi dan realita lapangan kurang oke?”

13. Dikaitkan dengan makna dan hakekat yang terkandung dalam kata “kebudayaan”, sesungguhnya akan terasa kurang afdol bila hingga kini kita tidak pernah memiliki paradigma yang jelas tentang pembangunan kebudayaan di negeri ini. Menurut pandangan para sahabat, rumusan strategi kebudayaan seperti apa yang paling kita butuhkan ?

Catatan Rakyat:

Kebudayaan yang berbasis Pancasila, yang baik dipelihara, yang buruk atau tak berguna dicatat dan dibuat suatu hukum untuk tidak dipakai lagi selamanya. Budaya tu diciptakan dan diarahkan pada yang bermartabat. Jangan dibiarkan liberal rusak bak budaya binatang. Jadikan Syariah Islam sebagai patron kebudayaan, insya Allah negeri ini selamat. Konservatif, preservatif, progresif namun tetap netral. Sebenarnya inilah dampak negatif dari globalisasi yang tidak bisa diredam, pengikisan akar budaya. Untuk memulainya kembali, perlu kiranya digalakkan (dgn tegas!) penggunaan bahasa indonesia dan bahasa daerah. Keberadaan bahasa asing secara bertahap mempercepat laju pengikisan budaya nasional.

Melestarikan dan mengembangkan budaya Indonesia adalah memelihara pluralisme dan pluralitas yang baik dalam segala aspek kehidupan. Pancasila adalah rumah pluralisme dan pluralitas Indonesia. Saling menerima dan menghormati perbedaan kunci budaya kita untuk menjaga keutuhan bangsa. Pluralisme dan pluralitas adalah jatidiri bangsa Indonesia sejak dulu.

“Mengingat dan membangun kembali nilai dan semangat nenek moyang terdahulu sebagai bangsa berbudaya, dunia segan dengan Kita, Merdeka..!”

14. Sebagai bangsa yang terbangun atas berbagai suku bangsa, tentu Indonesia memiliki berbagai budaya dan kearifan lokal (local wisdom) yang cukup penting untuk dikenali dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari jati diri bangsa. Oleh karena itu, menurut para sahabat, langkah2 strategis apa saja yang sepantas nya kita lakukan agar kekuatan budaya lokal itu tetap berakar dalam kehidupan masyarakat ?

Catatan Rakyat:

Pendidikan budaya diusia dini, semua pihak ikut rasa memiliki dan mencintai dan beri penghargan pada orang-orang yang telah berjasa pada pelestarian budaya serta yang penting kalau bukan kita yang menjaga, mencintai dan melestarikan budaya-budaya di negara kita siapa lagi coba…! Misal nya pengembangan desa adat di Bali perlu ditiru oleh kabupaten lainnya di indonesia, apbn ,apbd dan bumn serta swasta juga harus turut mendukung dananya.

Lakukan gerakan cinta budaya lokal, tanamkan dari sejak dini, andaikan bermain gamelan menjadi kegiatan ekstrakulikuer di sekolah, ataupun pelajaran menari Jaipong misalnya. Kemudian adakan kompetisi kesenian seperti gelaran pemilihan penyanyi favorit yang banyak ditayangkan di televisi sekarang. Tak kenal maka tak sayang.

Dimasukkan dalam kurikulum pendidikan dan dibuat perangkat hukum untuk melestarikan budaya daerah yang juga merupakan budaya nasional sekaligus jati diri bangsa.

15. Budaya adalah hasil karsa, karya dan cipta manusia. Menurut pandangan para sahabat, bagaimana cara yang harus dilakukan agar setiap anak bangsa, mampu mengenali budaya nya sendiri dan berani mempertanggungjawabkan nya lewat kiprah keseharian nya ? Manusia yang berbudaya adalah manusia yang berani bertanggungjawabkan apa-apa yang telah dilakoninya.

Catatan Rakyat:

Budaya bisa diarahkan sesuai kemauan/keinginan yang menyetir negara, mau kearah Liberal bisa, mau Islami bisa (moga-moga ada yang minat). Mau baik mau buruk bisa aja. Kita harus mewariskan dan melestarikan budaya tersebut pada anak cucu dengan cara mengarahkan mereka untuk turut serta mempelajari, melakukan dan mengajak rekan-rekannya berperan serta dalam mengikuti budaya bangsa tsb. Antara lain; peningkatan seni budaya di tingkat sekolah dasar dan pemahaman, pengenalan, pembelajaran akan seni buda yang mesti di terapkan oleh orang tua bagi anak cucu nya. Satu minggu sekali ada pelajaran nyanyi lagu daerah seperti SD dulu, sedih..anak-anak kita kurang tahu lagi daerah+nasionl, kalo ibu nya gak ikut ngajarin. Harus dipelajari sejak masih dini karena anak2 jaman skrng jarang yg mengenal budayanya sendiri. Ya….dengan memakai hasil kerajinan budaya sendiri donk….misal nya memakai batik.

Ya bagaimana mau bicara budaya kalau elit dan pemimpin kita lebih sukah besetubuh dengan globalisasi dan neoliberalisme, katimbang dengan kearifan lokal, dan mengaparkan Pancasila yang seharus nya menjadi ideologi negara. Kalau elit politik ngak paham ya sulit wong rakyat ini manut sama yang mimpin. Emang,pada saat sekarang tidak sedikit anak bangsa ini yang tidak mengenal budaya nya sendiri.sehingga budaya yang dikembangkn justru budaya-budaya dari luar, budaya dalam bentuk apapun.
Kenali, pahami, lestarikanlh budaya kita. Dengan pendidikan gratis yang tidak berorientasikan hanya kepada nilai atau angka angka aja sehingga anak bangsa bisa jadi lebih kreatif menghasilkan banyak karya yg menakjubkan.

1. Minat dan kebiasaan menyelidiki apa-apa yang terjadi di sekitar kita dan di luar lingkungan kita. Juga menelaah apa yang kita kerjakan sendiri dan mengapa ?
2. Kesadaran akan pola-pola nilai yang kita anut serta bagaiman hubungan nilai-nilai tsb dengan cara hidup kita sehar-hari.
3. Kerelaan untuk memikirkan kembali dengan hati jujur dan terbuka akan nilai-nilai yang akan kita anut untuk mngatahui apakah kita secara berdiri sendiri dapat membenarkan nilai-nilai tsb untuk diri kita sendiri.
4. Keberanian moral untuk mempertahankan nilai-nilai yang kita rasakan sudah dapat kita terima dengan penuh tanggung tanggungjawab dan sebaliknya menolak nilai-nilai yang tidak dapat dibenarkan.

Pembentukan karakter sebagai bangsa yang mempunyai lokal genius, tidak hanya terpengaruh oleh lingkungan, akan tetapi genetik lebih mendonimasi hasil pembentukan karakter seseorang, begitu juga dengan budaya bangsa yang statusnya sebagai identitas yang membedakan antar bangsa satu dengan yang lain. Pemahaman akan nilai budaya inilah yang harusnya diimplementasikan melalui sistem khusus, sebagai filter pemisah budaya sendiri dengan budaya luar. Sehingga keutuhan cinta dan rasa tanggung jawab terhadap budaya lokal akan berkembang seiring dengan berbagai penyuaraan dan penyaluran dasar budaya itu sendiri, cipta, karya dan karsa, membutuhkan sensitivitas lebih dari anak bangsa, terlebih lagi hegemoni budaya sekarang ini sudah merambah pada pertarungan tak bermoral, untuk itu perlu adanya arahan, penanaman akan nilai hakikiah budaya, penghormatan terhadap segala pluralisme, serta pendidikan dini tentang budaya, sehingga terbentuklah karakter lokal genius, budaya bangsa yang bermartabat serta apresiatif implementatif budaya yang bermoral tinggi..bhinekatunggal ika..!

“Globalisasai meracuni segala sendi hingga tulang ….!!”

16. Kesenian adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan. Seniman dan budayawan merupakan padanan jati diri yang satu sama lain memiliki keterkaitan. Oleh sebab itu, kita jangan sekali-kali mendikhotomikan antara kedua nya, namun yang lebih tepat adalah bagaimana mengharmonikannya. Bagaimana komentar para sahabat sendiri ?

Catatan Rakyat:

Budaya berasal dari kata budi dan daya, budi artinya akal/pikiraran,,daya adalah suatu daya/perbuatan/kekuatan. Jadi budaya adalah suatu perbuatan yang mnggunakan akal pikiran untuk menciptakan suatu tradisi atau kebiasaan. Benar dan memang begitu adanya…. tetapi kadang ada juga yang melacurkan seni dan budaya kita……sayang ? Kerja kesenian adalah cermin keberadaban suatu bangsa, jadi berkesenian harus bebas dari kepentingan, gak bisa dikangkangi, apalgi dilacurkan ! Selama kita tak bisa menghargai dan menjaga budaya kita sendiri sama saja dengan kita tak menghargai diri kita sendiri, itu yang harus ditanamkan. Aduh pakdhe pemimpin..jangan sampe kecolongan dong, negara kita memliki beragam seni budaya, banyak dari gnerasi muda yang beralih ke seni budaya barat. Gimana tuh cara ngatasinya ? Masukkan sebagai pelajaran wajib ragam budaya kita sejak kelas 1 SD hingga kuliah, wajib ambil 1 MK tentang budaya. Pemerintah kudu bantu dong, hidupkan lagi sanggar-sanggar seni yang sekarang banyak yg terbengkalai ? Pakai promosi ajak generasi muda Indonesia untuk turut aktif memelihara seni budaya Indonesia.

Kita setuju dengan bang Panda..seperti Bung Karno bilang dalam Tri Sakti nya. Berkepribadian dalam berbudaya…maka pelaku-pelaku budaya juga harus ditempatkan dan di beri porsi yang layak, karena merupakan bagian dari “Harga Diri Bangsa !” Kebudayaan terbentuk dari kesenian ,dimana satu sama lain saling bertautan,,,,jadi kalau ingin melestarikan Kebudayaan dan Kesenian hendaknya,,,melestarikan Budaya yang ditinggalkan serta memperhatikan nasib seniman yang bergerak dalam bidang kebudayaan itu. Dengan kata lain, definisi pengetahuan budaya (the humanities) adalah pengetahuan yang mencakup keahlian/disiplin seni dan filsafat. Keahlian ini dapat dibagi lagi dalam keahlian-keahlian lain, seperti seni sastra, seni Tari, seni Musik, seni rupa dll. Apakah penegasan ini sudah difahami oleh para wakil rakyat kita ? Atau masih belum, mengingat banyak yang berkiprah di politik tidak dilandasi oleh filosofi dasarnya ? Termasuk di dalamnya para artis yang jadi Anggota DPR

“Panda Nababan-DPR: Seniman juga profesi, maka harus ada jaminan kelangsungan dan kenyamanan dalam melaksanakannya. Hasil karya seniman adalah asset, maka sudah menjadi kewajiban pemerintah bersama rakyat menjadikannya budaya. Setelah menjadi budaya semua harus memelihara dan mempertahankan. Merdeka..!” 

17. Menurut para sahabat, apakah bangsa kita sudah memiliki “master plan” pembangunan kesenian yang berbasiskan kepada kearifan lokalitas ?

Catatan Rakyat:

Ada… tapi kita hanya selalu mementingkan diri sendiri… semua pihak merasa paling benar… coba kita satukan kata niat harap…dan do’a… seluruh kekuatan kita menyatu untuk Indonesia tercinta… pasti akan didapat hasil yang terbaik untuk seluruh rakyat…. jangan hanya bisa menghujat… tunjukan kemampuan kita…Mengenai Master Plan Indonesia terkenal, lengkap. Cuma ketika bicara pelaksanaan, dananya habis/menguap/hilang, disebabkan tidak pernah dengan integritas moral yang baik. semuanya dasarnya fulus, ketika pembagian tidak rata konflik, so what gitu lho ? Makanya harus undang khusus Pejabat, Pegawai, Aparat Pemerintah, selain KUHP.

Belum, jangankan memiliki master plan, untuk pelestarian budaya daerah pemrintah masih sangat minim perhatian..Contohnya pemerintah baru tergerak ketika beberapa produk kesenian Indonesia akan dibajak oleh negara lain, kenapa tidak dipatenkan sejak awal kalau memang bangsa ini punya kearifan lokalitas…

“Belum tuh… lebih banyak ngadopsi dari luar karena kesenian masih dipandang sebelah mata oleh para pengambil kebijakan di negeri ini..!”

18. Walau pun disambut dengan beragam sikap atas diundangkan nya UU perfilman, yang pasti sekarang kita memiliki UU yang mengatur soal perfilman. Menurut pandangan para sahabat sendiri, langkah apa yang sebaiknya dilakukan agar para pihak mampu memandang masalah ini secara jernih ?

Catatan Rakyat:

Dalam segala hal, memandang secara jernih paling susah…kita masih belajar untuk melihat secara jernih, semoga kebebasan berekspresi masih ada dan film tidak hanya sekedar tontonan tapi juga tuntunan. 

Ini bangsaku… sudah ada aturan maka jangan selalu ribut… kita harus mulai bersikap dewasa kawan… kalau setiap keluar peraturan, baik UU Perppu dll…tidak perlu ribut sudahlah kita wajib ikuti dan patuhi… kalau tidak mau patuh ya kita jangan dinegeri ini… pindah sana kenegeri yang cocok buat kita aturan-aturan nya. 

“UU itu bukan cuma disosialisasikan tapi harus lebih menuju ke internalisasi…!”

19. Di usulkan agar keberadaan Lembaga Badan Sensor Film, jangan hanya melakukan penyensoran terhadap film2 layar lebar, namun film atau sinetron yang diputar di televisi pun perlu dilakukan hal yang sama. Menurut pandangan para sahabat, langkah-langkah nyata apa yang sebaiknya dilakukan ?

Catatan Rakyat:

Setuju……! Selain enggak mutu…..ada yang akal-akalan…..diulur-ulur sehingga ceritanya jadi enggak masuk akal…..tujuannya komersil banget ! Nggak mendidik lagi. Mencontohkan hidup glamor, hal hal negatif segi positifnya sedikit. Bagus sekali… kita sudah kehilangan jati diri.. moralitas sudah sangat rusak… budi pekerti jadi bahan cibiran.. mencuri hak orang lain jadi impian… berantas kebejadan moral.. kembali kepada jati diri bangsa Indonesia Pancasila. Setuju, jangan cuma film porno aja yang kena sensor. Sinetron Indonesia justru lebih berbahaya karena jadi santapan sehari-hari dan lebih mengena ke pikiran terutama anak kecil. LSF mana kerjamu?

Setuju banget !! Bukan hanya sinetron tapi semua acara TV yang membodohkan rakyat. Sinetron dan reality show lebih bahaya daripada film bioskop dalam mempengaruhi cara pikir dan perilaku masyarakat.
Lembaga Sensor pasti dilindungi UU dan Hukum dimata Hukum tidak ada perbedaan dalam keadilan jadi yang melanggar Hukum harus ditindak !!! Ganti aja itu BSFI, ga ada yang beres pun kerjanya, lihat aja Tv sekarang, banyak yang mengandung porno, pembodohan, penipuan. Kebohongan Publik…jadi mana Tugas BSFI,,,nya? bukankah mereka di bayar untuk itu semua ? Agak sulit untuk dilakukan. Soalnya Badan Sensor Film kita tidak ditopang oleh sarana dan prasarana yang canggih. Hanya dengan modal semangat, mana mungkin akan mampu berkiprah yang terbaik.

20. Sejak 20 tahun lalu, semangat untuk menumbuh-kembangkan perpustakaan yang berkualitas, sebetulnya sudah menggaung dalam kehidupan kita semua. Kampanye rindu perpustakaan, pengembangan perpustakaan keliling, perpustakaan masuk desa dan yang sejenis dengan itu, adalah bukti nyata atas pentingnya perpustakaan dalam kehidupan bangsa. Menurut para sahabat sendiri, langkah2 nyata seperti apa yang sebaiknya dilakukan agar semangat diatas dapat segera diwujudkan ?

Catatan Rakyat:

Kebiasaan jadi salah satu faktor yang sangat sulit untuk di rubah, di mulai dari hal terkecil membiasakan membaca dalam lingkungan kita masing-masing dan membaca adalah guru bagi kita. Salah satunya adalah lakukan “kampanye cinta perpustakaan”. Juga siapkan buku-buku baru yang bernuansa global.

21. Menurut pandangan para sahabat, apakah kebijakan pengembangan perpustakaan di negara kita dibarengi juga dengan kebijakan “buku minded” ? Ini penting dicatat, karena jika tidak, maka keberadaan perpustakaan hanyalah sebuah bangunan fisik yang tidak dijiwai oleh kemauan masyarakat untuk membaca buku-buku yang berada di dalamnya.

Catatatan Rakyat:

Bukan hanya buku minded, tapi ilmu minded kayaknya juga penting. Setidaknya, perlu juga dipikirkan bagaimana membuat pustaka itu menjadi sebuah tempat yang menarik untuk dimasuki, maklum saja sekarang orang lebih menarik masuk bioskop dibanding pustaka ? Dan yang pasti adalah buku itu mesti berkualitas dan sesuai dengan perguliran jaman. Ngak kaci kalau buku yang banyak itu ternyata terbitan jaman dulu. Perlu dipertimbangkan bahwa, letak perpustakaan saja sudah bikin orang malas datangi… kan dikonsumsi oleh masyarakat…nah letaknya ndak ditengah masyarakat ?

Salam Sahabat Rakyat,

Post to Twitter   Post to Facebook





Silakan login terlebih dahulu untuk dapat melihat dan memberi komentar
 

You need to log in to vote

The blog owner requires users to be logged in to be able to vote for this post.

Alternatively, if you do not have an account yet you can create one here.

Powered by Vote It Up

FireStats icon Powered by FireStats